Sedikit cerita sejarah bernuansa klimatologi dan topografi Jawa, sayang rasanya
kalau diketahui sendiri saja. Saya tuliskan untuk rekan-rekan semua, semoga
bermanfaat menambah pengetahuan.

Menarik mencermati publikasi lama Fruin-Mees (1919) : ”Geschiedenis van Java”
dan ”Geografi Kesejarahan” Daldjoeni (1984, 1992). Kedua penulis ini
menganalisis dengan tajam bagaimana Sultan Agung dari Mataram menghitung-hitung
rintangan dan dukungan alam untuk menyerang Belanda di Batavia (1628-1629).
Berikut ringkasannya.


Batavia tak mungkin diserbu pada bulan Desember dan Januari karena saat itu
musim penghujan. Banjir akan menggenangi Batavia, angin Barat yang sedang
berhembus ke timur akan menyusahkan kapal-kapal Mataram berlayar ke barat dari
pesisir utara Jawa Tengah menuju Batavia.

Selain itu, Batavia harus digempur dari laut dan dari darat secara bersatu dan
kompak. Ini tak mungkin dalam bulan-bulan musim hujan, tetapi harus dilakukan
dalam musim kemarau yaitu Juli-September. Sebab, pada musim kemarau bertiup
angin Timur ke barat yang akan mendorong kapal-kapal Mataram berlayar ke
Batavia. Pada musim kemarau, angkatan darat Mataram akan memperoleh banyak
bantuan dari para petani di sepanjang perjalanan sebab para petaninya baru
selesai memanen padinya pada April-Mei (ingat sistem pranata mangsa para petani
di Jawa, pernah saya ulas juga di milis ini berdasarkan Daldjoeni, 1984; 1992),
mereka sedang menganggur sebab baru akan mulai menanam lagi pada bulan November
saat hujan pertama datang.

Lalu, bila serangan dilakukan pada bulan Juli-September, persediaan makanan
sepanjang perjalanan akan cukup sebab di sepanjang perjalanan para petani baru
selesai panen (April-Mei). Sultan Agung memerintahkan untuk mendirikan
lumbung-lumbung beras sepanjang perjalanan dari Mataram ke Batavia.

Perjalanan kaki tentara Mataram dari pusat kerajaan di sekitar Yogyakarta ke
Batavia butuh waktu tempuh 90 hari, ini tentu akan lebih lama bila dilakukan
pada musim hujan.

Kemudian, Batavia akan diserang dengan cara membelokkan Sungai Ciliwung,
sehingga Batavia akan menderita kekeringan dan wabah penyakit sebab tak ada air
mengaliri kota. Membelokkan sungai bukan pekerjaan mudah dan tentu ini akan
lebih mudah dilakukan pada saat musim kemarau saat debit sungai minimal.

Sementara itu, perlu juga diperhitungkan kondisi geomorfologi dan geografi kota
Batavia dan sekitarnya. Menurut de Haan (1912) : ”Priangan”, Batavia pada abad
ke-17 terletak di muara Sungai Ciliwung, berawa-rawa, dengan vegetasi dominan
pohon kelapa. Sampai tahun 1625, bila di Batavia hujan maka terjadi genangan
setinggi lutut. Orang bahkan bisa naik sampan untuk masuk ke hutan-hutan di
belakang Batavia. Sampai tahun 1655 ada pendapat bahwa Batavia pada musim hujan
tak mungkin diserang kalau pada musim hujan sebab genangan air akan merupakan
penghalang. Rawa-rawa di sekitar Jakarta itu telah ada sejak abad-abad awal
Masehi maka para pedagang dari Hindustan (India) tak memilih menempati Jakarta
sebab kondisinya tidak sehat.

Pada tahun 1628, daerah Jatinegara sekarang masih merupakan hutan rimba yang
dijadikan tentara Mataram untuk bersembunyi sebelum menyerang Batavia. Tahu
begitu, maka Belanda menebangi banyak pohon di sekeliling benteng Batavia
termasuk pohon-pohon kelapanya. Maka, Batavia pun kekurangan kelapa dan Belanda
mendatangkan kelapa dari Pulau Cocos dekat Pulau Christmas di Samudera Hindia.
Itu terjadi tahun 1632.

Fruin Mees (1919) menulis bahwa Sultan Agung menyerang Belanda di Batavia dua
kali, yaitu dari September 1628 dan September 1629. Keduanya sengaja dipilih
pada musim kemarau. Serangan pertama gagal karena ketika pengepungan sedang
dilakukan tiba-tiba turun hujan pertama, maka para tentara yang sebagian petani
menjadi gelisah sebab mereka ingin segera bertani. Maka para tentara di bawah
pimpinan Sura Agul-Agul itu kembali ke Mataram. Pada serangan kedua, Sungai
Ciliwung berhasil dibelokkan sehingga kota dilanda penyakit. J.P. Coen,
gubernur jenderal saat itu, meninggal pada 20 September 1629 karena serangan
penyakit tersebut (sumber lain mengatakan bahwa ia dibunuh seorang tentara
Mataram yang menyelinap masuk ke benteng). Tetapi, perang bubar pada 7 Oktober
1629 seiring turunnya hujan pertama pada masa labuh. Tentara petani memaksa
pulang ingin mengerjakan sawahnya.

Begitulah, perang masa lalu tak bisa dilepaskan dari irama permusiman di darat
dan pergantian arus laut di Laut Jawa. Strategi Sultan Agung dari Mataram untuk
menyerang Belanda di Batavia sebenarnya cukup pelik dan berat sebab harus
selalu memperhitungkan kerumitan faktor alam. Fungsi iklim dan geomorfologi
akan mempengaruhi kesuksesan perang. Dua faktor ini juga mempengaruhi aktivitas
manusia (khususnya) petani yang dijadikan tentara.

Pada masa rendheng (Desember-Maret) tak diadakan perang sebab pertanian padi
basah sedang berlangsung, tak ada tenaga petani yang mau jadi tentara. Pada
mangsa mareng (April-Juni) sedang terjadi pengumpulan bahan makanan (panen).
Pada mangsa katiga (Juli-September) baru diadakan penyerangan yang diakhiri
pada awal mangsa labuh (Oktober-November).

Oleh : Awang Satyana
Sumber : IAGINET

Baca selengkapnya... ..

Sekapur Sirih

Tuesday, 21 April 2009 1:58 pm with 0 comments »


Matur sembah nuwun kagem Gusti Allah, yang telah mentakdirkan aku sebagai putra Nusantara.

Terima kasih kepada junjunganku Muhammad saw, untuk cahaya terangnya yang telah membimbingku menapaki gelapnya dunia. Dan juga kedua orang tua yang telah membekali aku dengan falsafah Jawa, mikul dhuwur mendem jero.

Saya ucapkan terima kasih sebesar-sebesarnya kepada Pak Awang Harun Satyana yang telah mengijinkan saya untuk mempublikasikan tulisan-tulisan beliau yang saya rangkum dari IAGINET.

Aku lahir sebagai orang Jawa, aku hidup dan dibesarkan oleh Indonesia, dan aku ingin mati sebagai orang Indonesia yang Njawani. Tapi jangan panggil aku Jawa, panggil aku Indonesia.

Baca selengkapnya... ..

Oleh : Ki Denggleng Pagelaran

Shyama Rao (1999) menulis buku-elektronik berjudul “The Anti-Sanskrit Scripture” dan dipajang di perpustakaan maya Ambedkar (http://www.ambedkar .com) - yang sekarang sudah dihapus. Rao mengkritisi anggapan akademis bahwa bahasa Sansekerta adalah induk semua bahasa di Asia Selatan bahkan sampai Eropa Barat, demikian juga aksara Deva Nagari yang diakukan berasal dari negeri para dewa.

Rao menjelaskan banyak kelemahan bahasa Sansekerta dan aksara Deva Nagari. Bahasa Sansekrta yang sejak jaman kuno dipropagandakan oleh bangsa Aryan sebagai bahasa suci dan Bahasa Dewata serta induk bahasa-bahasa di Hindustan, bahasa Persia, Inggris dan Jerman itu mengandung kerumitan tatabahasa dan memiliki terlalu banyak karakter (alphabets). Rao membuat daftar perbandingan jumlah karakter bahasa-bahasa primitif (Sansekrta digolongkan primitif), sebagai berikut: Cina-Ming 40,545, Cina-Sung 26,194, Cina-Han 9,353, Sumeria 1,200, Sansekrta 509, dan Heroglif Mesir 70 karakter.


Memang jauh lebih banyak jumlah karakter Cina atau Sumeria, namun di bahasa-bahasa itu setiap karakter mewakili satu makna grammatical suatu kata atau morpheme. Sedang dalam bahasa Sansekrta satu aksara Deva Nagari hanya melambangkan bunyi, cara baca, perubahan bentuk kata dan lain-lain aturan grammatical yang sangat rumit. Agak mirip dengan huruf-huruf Timur-Tengah seperti Hibrani dan Arab tetapi jauh lebih rumit. Belum lagi tatabahasanya yang tidak konsisten sebagai kelompok bahasa daratan Asia Selatan ke Barat. Bahasa Sansekrta tidak membedakan jenis kelamin, tidak mengenal “tenses”, tidak ada konsep “tunggal dan jamak”, serta tidak ada partikel, tetapi banyak sinonim dan homonim yang mirip dengan kelompok bahasa Nusantara. Anehnya kosa-kata bahasa Sansekreta banyak yang mirip bahasa-bahasa Asia Selatan, Asia Barat hingga Eropa Barat.

Kesimpulannya, bahasa Sansekrta dan aksara Deva Nagari adalah “rakitan” dari berbagai bahasa. Dia dirakit dengan menyampur atau menyomoti kosa-kata dan cara tulis berbagai bahasa yang ada di Daratan Hindustan ditambah dengan bahasa-bahasa pendatang dengan logat bangsa Aryan. Ini juga dibuktikan bahwa penutur aktif bahasa Sansekrta pada tahun 1921 tinggal sekitar 356 orang di seluruh India, Pakistan dan Bangladesh (sekarang), dan pada sensus tahun 1951 hanya ada 555 orang penutur Sansekreta dari 362 juta penduduk India.

Bahasa Jawa, Sunda, Bali dan Indonesia justru mengandung sekitar 50% kosa kata Sansekrta. Jangan-jangan justru orang Aryan menyomot sebagian bahasanya dari Bahasa Nusantara sebagai bagian bahasa rakitannya. Karena secara praktis, justru penutur Sansekreta itu jauh lebih banyak di Nusantara dibanding penutur di India. Apalagi orang Aryan sendiri justru memakai bahasa Hindi. Bukti paling telak adalah bahwa belum diketemukan satupun naskah kuno berbahasa Sansekrta dengan aksara Deva Nagari di India sebelum tahun 500 Masehi!

Bahasa yang dianggap dan dipropagandakan sebagai bahasa dewata, terbukti sebagai bahasa rakitan minoritas “penguasa” Hindustan. Sayangnya, propaganda Sansekrta sebagai induk bahasa-bahasa terlanjur mendarah daging bersamaan dengan banjir bandang imperialisme dan kolonialisme sebagai sumber anthropologi. Teori Sansekrta Induk Bahasa (TSIB) terlanjur bercokol di memori intelektual sejarah, lingusistik dan sosial. Bahkan meracuni beberapa ahli komputer hingga pernah ada pendapat “Bahasa Sansekrta paling afdol untuk program komputer, karena mewakili banyak bahasa besar di dunia” tanpa dipertimbangkan kerumitan penulisan yang digunakan dan ketidakkonsistenan tatabahasanya. Justru bahasa komputer yang melanglang jaringan “artificial intelligent” bernama “Java Script” yang konon karena “fleksibelnya” the Javanese.

Seorang agronomist dari Haryana University, Profesor Ashok Kumar – tahun 2003/2004 tinggal bersebelahan kamar dengan penulis – ketika berbincang masalah bahasa, sangat heran dengan bahasa Indonesia. Pertama dia heran sewaktu penulis memberitahu bahwa “language” itu “bahasa”. Dia heran, karena di bahasa Hindi dan Bengali, “language” adalah “bhasa”. Dia lebih heran lagi ketika penulis katakan bahwa dalam bahasa Jawa berbunyi “boso” (tetapi terpaksa saya tulis “bawsaw”). Dia bingung, dari mana istilah “bhasa, boso, dan bahasa” itu berasal. Dia sebagai orang Hindu justru tidak merujuk Sansekrta, malah menduga dari bahasa Arab atau Urdu. Penulis juga heran, mengapa istilah “bhasa” itu, kalau benar-benar dari Sansekrta, mestinya di Persia, Jerman, Inggris, Latin, Yunani, juga mirip paling tidak ada konsonan “bhs”, tetapi kok jadi “lingua”?

Keheranan Prof. Kumar kedua adalah tentang jumlah bahasa di Indonesia yang ratusan, tetapi memiliki satu bahasa Indonesia yang dapat diterima oleh hampir semua orang Indonesia, sehingga dia pernah bertanya “What language do you speak?” ketika penulis asyik berbincang dengan rekan dari Aceh dan Bali. Penulis juga heran sendiri, karena antara bahasa Jawa, Sunda dan Bali itu banyak mengandung kosa-kata Kawi, sedang hampir 80% kosa kata bahasa Melayu asli punya akar kata Kawi, menurut Wojowasito atau Zoed Mulder – penulis agak lupa.

Kenyataan itu sangat berbeda dengan negerinya yang besar. Negerinya punya keragaman ekologi dan ekosistem yang spektakuler. Mulai dari yang bersalju abadi (Himalaya) sampai yang bergurun (Deccan dan Punjab). Dari yang daratan utuh (Hindustan) hingga kepulauan (Andaman). Maka Prof. Kumar berkhayal, seandainya India memiliki bahasa nasional yang bisa diterima oleh seluruh bangsa seperti Bahasa Indonesia, betapa kuat negaranya! Tetapi dia justru heran kepada Indonesia yang tidak maju-maju. “What’s wrong with the Indonesian?” katanya.

Penulis menerawang. Ternyata dari Sumpah Pemuda, Bahasa Indonesia masih merupakan pengikat paling kuat persatuan dan kesatuan Indonesia . Bahasa konon merupakan salah satu ekspresi kebudayaan bangsa penuturnya. Penulis teringat akan artikel di majalah ilmiah populer HortScience tentang asal-usul tanaman “tales-talesan” yang ada di Oceania, Polynesia hingga Hawaii lalu menyebar ke Jepang, Cina dan Korea, yang diduga dulu-dulunya dibawa oleh penjelajah lautan kuno dari Nusantara sebagai “bekal” bahan makanan. Dan lebih yakin lagi setelah kebetulan nonton siaran NHK (TV Jepang) akhir tahun 2003 sewaktu membahas kebudayaan bangsa Hawaii. Di siaran itu ada tarian tradisional yang diucapkan oleh pembawa acara sebagai: “Kokonatsu no odori” (Tarian pohon kelapa) yang tulisan bahasa Hawaiinya ada kata “kalappa”. Nusantara telah punya bahasa yang satu, berarti budayanya juga satu.

Jadi, bahasa manakah yang bahasa Induk? Sansekrta atau bahasa-bahasa Nusantara yang diwakili oleh Bahasa Indonesia? Sayang bahwa dalam sejarah penyebaran manusia, bangsa Nusantara terlanjur dianggap sebagai pendatang dari Indo-Cina. Meskipun saya pribadi tidak menemukan sama sekali kosa kata Indonesia atau Jawa yang mirip dengan kosa kata Khmer atau Burma . Yang ada justru dulu raja-raja Kamboja memakai nama akhir Warman dan kebetulan pula salah seorang bangsawan dari daerah Pamalayu di Majapahit bernama Adityawarman. Sementara nama raja Kamboja sekarang justru Norodom Sihanouk yang sama sekali tidak mirip dengan satu pun kata Melayu, Jawa, Sunda dan Bali .

Ingin saya mengemukakan pemikiran kontroversial ini tentang bahasa dan bangsa Nusantara. Tetapi, paling-paling nasibnya akan seperti tulisan Shyama Rao, meskipun Prof. Kumar yang orang Hindi berdarah Aryan kebingungan dengan bahasa Sansekrta dan aksara Deva Nagari, hanya dengan satu kata Indonesia, “BAHASA”, tetap saja TSIB-lah yang berlaku secara akademis.

Sumber : Milis SekarJagad

Baca selengkapnya... ..

Sejarah Kerajaan di Pulau Jawa

Monday, 20 April 2009 11:03 am | with 0 comments »

Catatan sejarah Pulau Jawa yang ditandai oleh prasasti atau berita-berita dari pedagang China dan India, ditengarahi oleh beberapa pusat peradaban. Dari barat berupa cerita tentang Salakanagara kemudian dilanjutkan prasasti mengenai Tarumanegara, bagian tengah cerita mengenai Kalingga dilanjutkan dengan Mataram Kuno, dan prasasti Kanjuruhan yang dilanjutkan oleh Kerajaan Medang.

Kerajaan Salakanagara

Salakanagara, berdasarkan Naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara (yang disusun sebuah panitia dengan ketuanya Pangeran Wangsakerta) diperkirakan merupakan kerajaan paling awal yang ada di Nusantara.


Tokoh awal yang berkuasa di sini adalah Aki Tirem. Konon, kota inilah yang disebut Argyre oleh Ptolemeus dalam tahun 150, terletak di daerah Teluk Lada Pandeglang.

Raja pertama Salakanagara bernama Dewawarman yang berasal dari India. Ia mula-mula menjadi duta negaranya (India) di Pulau Jawa. Kemudian Dewawarman menjadi menantu Aki Tirem atau Sang Aki Luhurmulya. Istrinya atau anak Aki Tirem bernama Pohaci Larasati. Saat menjadi raja Salakanagara, Dewawarman I ini dinobatkan dengan nama Prabhu Dharmalokapala Dewawarman Haji Raksagapurasagara. Rajatapura adalah ibukota Salakanagara yang hingga tahun 362 menjadi pusat pemerintahan Raja-Raja Dewawarman (dari Dewawarman I - VIII).

Sementara Jayasinghawarman pendiri Tarumanagara adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang Maharesi dari Salankayana di India yang mengungsi ke Nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Maurya.

Di kemudian hari setelah Jayasinghawarman mendirikan Tarumanagara, pusat pemerintahan beralih dari Rajatapura ke Tarumangara. Salakanagara kemudian berubah menjadi Kerajaan Daerah.

Cat : bukti fisik berupa prasasti mengenai Salakanagara belum ditemukan. Sumbernya hanya merupakan hipotesa dari pernyataan Ptolemeus tentang Argyre dan Naskah Wangsakerta.

Kerajaan Tarumanagara

Bukti keberadaan Kerajaan Tarumanegara diketahui melalui sumber-sumber yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Sumber dari dalam negeri berupa 7 buah prasasti batu yang ditemukan empat di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa Kerajaan Tarumanegara dibangun oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman tahun 358 M dan beliau memerintah sampai yahun 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada di sekitar sungai Gomatri (wilayah Bekasi). Kerajaan Tarumanegara ialah kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara.

Cat : Prasasti yang berkaitan dengan kerajaan Tarumanagara sebagian besar ditulis dengan Huruf Pallawa dengan bahasa Sansekerta. Dan sebagian ditulis dengan menggunakan aksara ikal yang sampai sekarang belum bisa dibaca (diketahui artinya).

Kerajaan Kalingga

Kalingga adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu di Jawa Tengah, yang pusatnya berada di daerah Kabupaten Jepara sekarang. Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan keberadaannya diketahui dari sumber-sumber Tiongkok. Kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu Shima, yang dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya.

Putri Maharani Shima, Parwati, menikah dengan putera mahkota Kerajaan Galuh yang bernama Mandi Minyak, yang kemudian menjadi raja ke 2 dari Kerajaan Galuh.

Maharani Shima memiliki cucu yang bernama Sanaha yang menikah dengan raja ke 3 dari Kerajaan Galuh, yaitu Bratasenawa. Sanaha dan Bratasenawa memiliki anak yang bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732M).

Setelah Maharani Shima mangkat di tahun 732M, Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja Kerajaan Kalingga Utara yang kemudian disebut Bumi Mataram, dan kemudian mendirikan Dinasti / Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno.

Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada putranya dari Tejakencana, yaitu Tamperan Barmawijaya alias Rakeyan Panaraban.

Kemudian Raja Sanjaya menikahi Sudiwara puteri Dewasinga, Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara, dan memiliki putra yaitu Rakai Panangkaran.

Cat : bukti tentang Kalingga hanya diketahui dari sumber-sumber China yang menyebut Holing untuk Keling yang dikemudian hari dikenal sebagai Kalingga dan Naskah Wangsakerta. Bukti fisik berupa prasasti sampai sekarang belum ditemukan.

Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram kita kenal dari sebuah prasasti yang ditemukan di Desa Canggal (barat daya Magelang). Prasasti ini berangka tahun 732 M, ditulis dengan huruf Pallawa dan digubah dalam bahasa Sanskerta yang indah sekali. Isinya terutama adalah memperingati didirikannya sebuah lingga (lambang Çiwa) di atas sebuah bukit di daerah Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya. Daerah ini letaknya di sebuah pulau yang mulia, Yawadwîpa, yang kaya raya akan hasil bumi, terutama padi dan emas.

Raja Sanjaya berdasarkan Prasasti Canggal(732 M), merupakan pendiri dari Wangsa Sanjaya yang bertahta di Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Menurut Prasasti Canggal (732 M), ia adalah kemenakan dari Sanna, penguasa sebelumnya. Raja Sanjaya mendirikan candi-candi untuk memuja Dewa Siwa. Sanjaya juga belajar agama Hindu Siwa dari para pendeta yang ia panggil.

Sanjaya meninggal pada pertengahan abad ke-8 dan kedudukannya di Mataram digantikan oleh Raka Panangkaran((760-780), dan terus berlanjut sampai masa Dyah Wawa (924-928), sebelum digantikan oleh Mpu Sindok(929) dari Wangsa Isyana.

Pengganti Rakai Kayuwangi adalah Rakai Watuhumalang (tahun 886-898), lalu raja Balitung/Rakai Watukura yang bergelar sri Iswarakesawotsawatungga (tahun 898-910), merupakan raja pertama yang memerintah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam hal ini ada kemungkinan bahwa Kanjuruhan-prasasti Dinoyo ditaklukkan.

Istilah Rakai pada zaman ini identik dengan Bhre pada zaman Majapahit, yang bermakna “penguasa di”. Jadi, gelar Rakai Panangkaran sama artinya dengan “Penguasa di Panangkaran”. Nama aslinya ditemukan dalam prasasti Kalasan, yaitu Dyah Pancapana.

Cat : Kerajaan Mataram Kuno diperintah secara bergantian oleh Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Prasasti yang ditinggalkan ditulis dalam huruf Pallawa berbahasa Sanksekerta.

Kerajaan Kanjuruhan

Prasasti Dinoyo merupakan peninggalan yang unik karena ditulis dalam huruf Jawa Kuno dan bukan huruf Pallawa sebagaimana prasasti sebelumnya. Keistimewaan lain adalah cara penulisan tahun berbentuk Condro Sangkala berbunyi Nayana Vasurasa (tahun 682 Saka) atau tahun 760 Masehi. Dalam Prasasti Dinoyo diceritakan masa keemasan Kerajaan Kanjuruhan.

Di desa Dinoyo (barat laut Malang) diketemukan sebuah prasasti berangka tahun 760, berhuruf Kawi dan berbahasa Sanskerta, yang menceritakan bahwa dalam abad VIII ada kerajaan yang berpusat di Kanjuruhan (sekarang desa Kejuron) dengan raja bernama Dewasimha dan berputra Limwa (saat menjadi pengganti ayahnya bernama Gajayana), yang mendirikan sebuah tempat pemujaan untuk dewa Agastya dan diresmikan tahun 760. Upacara peresmian dilakukan oleh para pendeta ahli Weda (agama Siwa). Bangunan kuno yang saat ini masih ada di desa Kejuron adalah Candi Badut, berlanggam Jawa Tengah, sebagian masih tegak dan terdapat lingga (mungkin lambang Agastya).

Dalam Prasasti Dinoyo diceritakan masa keemasan Kerajaan Kanjuruhan sebagaimana berikut :

* Ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Raja yang sakti dan bijaksana dengan nama Dewasimha
* Setelah Raja meninggal digantikan oleh puteranya yang bernama Sang Liswa
* Sang Liswa terkenal dengan gelar Gajayana dan menjaga Istana besar bernama Kanjuruhan
* Sang Liswa memiliki puteri yang disebut sebagai Sang Uttiyana
* Raja Gajayana dicintai para brahmana dan rakyatnya karena membawa ketentraman diseluruh negeri
* Raja dan rakyatnya menyembah kepada yang mulia Sang Agastya
* Bersama Raja dan para pembesar negeri Sang Agastya (disebut Maharesi) menghilangkan penyakit
* Raja melihat Arca Agastya dari kayu Cendana milik nenek moyangnya
* Maka raja memerintahkan membuat Arca Agastya dari batu hitam yang elok

Prasasti Sangguran (Batu Minto) asal daerah Ngandat, Malang (Jawa Timur), yang pernah dibawa ke luar negeri oleh Stamford Raffles pada 1814, yang berasal dari abad ke-10. Prasasti Sangguran (Prasasti Minto), dikenal dengan ‘Lord Minto’ atau ‘Minto Stone’ untuk versi Skotlandia (Inggris) merupakan prasasti beraksara dan bahasa Jawa Kuno.

Prasasti itu merupakan reruntuhan candi di desa Ngandat, Malang, dan dinilai sangat penting dari sisi historis, karena menjadi bagian sejarah peralihan dari kerajaan Mataram ke Jawa Timur.

Prasasti Sangguran ditulis dalam aksara dan bahasa Jawa kuno. Isi pokoknya adalah tentang peresmian Desa Sangguran menjadi sima (tanah yang dicagarkan) oleh Sri Maharaja Rakai Pangkaja dyah Wawa Sri Wijayaloka Namestungga pada 14 Suklapaksa bulan Srawana tahun 850 Saka. Jika dikonversi ke dalam tahun Masehi, maka identik dengan 2 Agustus 928.
Prasasti tersebut menyebutkan pula nama Rakryan Mapatih I hino pu Sindok Sri Isanawikrama dan istilah sima kajurugusalyan di Mananjung. Yang menarik, sima tersebut ditujukan khusus bagi para juru gusali, yaitu para pandai (besi, perunggu, tembaga, dan emas). Isi prasasti seperti itu boleh dikatakan amat langka, jarang terdapat pada prasasti-prasasti lain yang pernah ditemukan di Indonesia.

Ahli epigrafi Boechari menafsirkan bahwa mungkin pada masa pemerintahan Raja Wawa ada sekelompok pandai atau seorang pemuka pandai, yang berjasa kepada raja. Pendapatnya didasarkan atas analogi dari kitab kuno Pararaton yang menyebutkan Mpu Gandring, tokoh yang dianggap pembuat keris legendaris, bersama keturunannya mendapat hak istimewa dari Sri Rajasa (Ken Arok) berupa anugerah sima kajurugusalyan (Sejarah Nasional Indonesia II, 1984).

Di mata para epigraf, Prasasti Sangguran juga dianggap unik karena menyebutkan istilah rakryan kanuruhan. Menurut J.G. de Casparis, kanuruhan berasal dari nama kerajaan Kanjuruhan yang disebut dalam Prasasti Dinoyo (760 Masehi). Kerajaan itu pernah berpusat di sekitar Malang sekarang.
Rupa-rupanya kerajaan Kanjuruhan itu pada suatu ketika ditaklukkan oleh raja Mataram. Namun keturunan raja-rajanya tetap berkuasa sebagai penguasa daerah dengan gelar rakryan kanuruhan. Oleh karena gelar kanuruhan ditemukan di antara tulisan-tulisan singkat pada salah satu gugusan Candi Loro Jonggrang (Prambanan), diperkirakan sebagai penguasa daerah, dia menyumbangkan candi perwara pada candi kerajaan itu. Sayangnya hubungan antara Prasasti Sangguran dengan Candi Prambanan, belum diteliti secara mendalam oleh para pakar.

Cat : Prasasti Dinoyo unik, karena ditulis menggunakan huruf Jawa Kuno (Kawi) dan berbahasa Sanksekerta. Kerajaan Kanjuruhan, jika merujuk kepada tahun yang terdapat pada prasasti Dinoyo (760 M), berarti sejaman dengan Mataram Kuno pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran yang naik tahta pada tahun 760 menggantikan Sanjaya.

Kerajaan Medang

Mpu Sindok, adalah raja terakhir dari Wangsa Sanjaya, yang berkuasa Kerajaan Mataram Kuno pada tahun 928-929. Diduga karena letusan Gunung Merapi, pada tahun 929 Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Istana yang baru dibangun di Tamwlang (Tembelang) sekitar tahun 929, di tepi Sungai Brantas, sekarang kira-kira adalah wilayah Kabupaten Jombang (Jawa Timur). Kerajaan baru ini tidak lagi disebut Mataram, melainkan disebut Medang (meski beberapa literatur masih menyebut Mataram). Mpu Sindok juga merupakan pendiri Wangsa Isyana, sehingga kerajaan baru tersebut kadang juga disebut Isyana.

Peristiwa Mahapralaya

Kerajaan Medang runtuh tahun 1006 pada masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh (cicit Mpu Sindok). Peristiwa hancurnya istana Watan terkenal dengan sebutan Mahapralaya atau “kematian besar”.

Kronik Cina dari Dinasti Sung mencatat telah beberapa kali Dharmawangsa Teguh mengirim pasukan untuk menggempur ibu kota Sriwijaya sejak ia naik takhta tahun 991. Permusuhan antara Jawa dan Sumatra semakin memanas saat itu.

Pada tahun 1006 Dharmawangsa Teguh lengah. Ketika ia mengadakan pesta perkawinan putrinya, istana Medang di Watan diserbu oleh Aji Wurawari dari Lwaram yang diperkirakan sebagai sekutu Kerajaan Sriwijaya. Dalam peristiwa tersebut, Dharmawangsa Teguh tewas.

Tiga tahun kemudian, seorang pangeran berdarah campuran Jawa - Bali yang lolos dari Mahapralaya tampil untuk membangun kerajaan baru sebagai kelanjutan Kerajaan Medang. Pangeran itu bernama Airlangga yang mengaku bahwa ibunya adalah keturunan Mpu Sindok. Kerajaan yang ia dirikan kemudian lazim disebut dengan nama Kerajaan Kahuripan.

Sebuah Pertanyaan :

Prasasti Dinoyo (760 M) dan Prasasti Sangguran (928 M) ditulis dengan aksara Jawa Kuno (Kawi) , bahkan Prasasti Sangguran dituturkan dengan Bahasa Jawa Kuno. Berbeda dengan prasasti-prasasti yang lainnya, yang berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanksekerta. Jika memang benar, pendiri kerajaan-kerajaan kuno tersebut masih ada hubungannya dengan India, penggunaan huruf Pallawa tidaklah mengherankan. Namun tahun dibuatnya prasasti Dinoyo sejaman dengan masa pemerintahan Rakai Panangkaran, yang mana Mataram Kuno banyak meninggalkan prasasti berhuruf Pallawa. Sama halnya juga Prasasti Sangguran, yang disitu malah disebutkan Raja yang berkuasa adalah Dyah Wawa

Sumber :

http://id.wikipedia.org

www.pemkot-malang.go.id

Renungan :

Prasasti Dinoyo (760 M) dan Prasasti Sangguran (928 M) ditulis dengan aksara Jawa Kuno (Kawi) . Berbeda dengan prasasti-prasasti yang lainnya, yang berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanksekerta. Jika memang benar, pendiri kerajaan-kerajaan kuno tersebut masih ada hubungannya dengan India, penggunaan huruf Pallawa tidaklah mengherankan. Namun tahun dibuatnya prasasti Dinoyo sejaman dengan masa pemerintahan Rakai Panangkaran, yang mana Mataram Kuno banyak meninggalkan prasasti berhuruf Pallawa. Sama halnya juga Prasasti Sangguran, yang disitu malah disebutkan Raja yang berkuasa adalah Dyah Wawa, salah satu Raja Mataram Kuno dari Wangsa Sanjaya.

Dengan demikian wilayah Kanjuruhan, mulai dari berbentuk kerajaan yang berdaulat sampai dengan menjadi bagian dari kerajaan Mataram Kuno, penduduknya sudah mengenal tulisan, yaitu huruf Jawa Kuno (Kawi), bahkan Prasasti Sangguran dituturkan dengan Bahasa Jawa Kuno.

Baca selengkapnya... ..

Sebuah artikel yang cukup menggugah nalar dan mengguncang tatanan sejarah bangsa ini. Sayangnya saya tidak menemukan author dari artikel ini. Selamat meresapi dan merenung.

Kembali ke masa prasejarah, penduduk wilayah Nusantara hanya terdiri dari dua golongan yakni Pithecantropus Erectus beserta manusia Indonesia purba lainnya dan keturunan bangsa pendatang di luar Nusantara yang datang dalam beberapa gelombang.


Berdasarkan fosil-fosil yang telah ditemukan di wilayah Indonesia, dapat dipastikan bahwa sejak 2.000.000 (dua juta) tahun yang lalu wilayah ini telah dihuni. Penghuninya adalah manusia-manusia purba dengan kebudayaan batu tua atau mesolithicum seperti Meganthropus Palaeo Javanicus, Pithecanthropus Erectus, Homo Soloensis dan sebagainya. Manusia-manusia purba ini sesungguhnya lebih mirip dengan manusia-manusia yang kini dikenal sebagai penduduk asli Australia.

Dengan demikian, yang berhak mengklaim dirinya sebagai “penduduk asli Indonesia” adalah kaum Negroid, atau Austroloid, yang berkulit hitam. Manusia Indonesia purba membawa kebudayaan batu tua atau palaeolitikum yang masih hidup secara nomaden atau berpindah dengan mata pencaharian berburu binatang dan meramu. Wilayah Nusantara kemudian kedatangan bangsa Melanesoide yang berasal dari teluk Tonkin, tepatnya dari Bacson-Hoabinh. Dari artefak-artefak yang ditemukan di tempat asalnya menunjukan bahwa induk bangsa ini berkulit hitam berbadan kecil dan termasuk type Veddoid-Austrolaid.

Bangsa Melanesoide dengan kebudayaan mesolitikum yang sudah mulai hidup menetap dalam kelompok, sudah mengenal api, meramu dan berburu binatang.Teknologi pertanian juga sudah mereka genggam sekalipun mereka belum dapat menjaga agar satu bidang tanah dapat ditanami berkali-kali. Cara bertani mereka masih dengan sistem perladangan. Dengan demikian, mereka harus berpindah ketika lahan yang lama tidak bisa ditanami lagi atau karena habisnya makanan ternak. Gaya hidup ini dinamakan semi nomaden. Dalam setiap perpindahan manusia beserta kebudayaan yang datang ke Nusantara, selalu dilakukan oleh bangsa yang tingkat peradabannya lebih tinggi dari bangsa yang datang sebelumnya.

Dari semua gelombang pendatang dapat dilihat bahwa mereka adalah bangsa-bangsa yang mulai bahkan telah menetap. Jika kehidupannya mereka masih berpindah, maka perpindahan bukanlah sesuatu hal yang aneh. Namun dalam kehidupan yang telah menetap, pilihan untuk meninggalkan daerah asal bukan tanpa alasan yang kuat. Ketika kehidupan mulai menetap maka yang pertama dan yang paling dibutuhkan adalah tanah sebagai media untuk tetap hidup. Mereka sangat membutuhkan tanah yang luas karena teknologi pertaniannya masih rendah. Mereka belum sanggup menjaga, apalagi meningkatkan, kesuburan tanah. Mereka membutuhkan sistem pertanian yang ekstensif, dan perpindahan untuk penguasaan lahan-lahan baru setiap jangka waktu tertentu. Sebelum didatangi bangsa-bangsa pengembara dari luar, tanah di Nusantara belum menjadi kepemilikan siapapun.

Hal ini berbeda dengan Manusia Indonesia Purba yang tidak memerlukan tanah sebagai modal untuk hidup karena mereka berpindah-pindah. Ketika sampai di satu tempat yang dilakukannya adalah mengumpulkan makanan (food gathering). Biasanya tempat yang dituju adalah lembah-lembah atau wilayah yang terdapat aliran sungai untuk mendapatkan ikan atau kerang (terbukti dengan ditemukannya fosil-fosil manusia purba di wilayah Nusantara di lembah-lembah sungai) walaupun tidak tertutup kemungkinan ada pula yang memilih mencari di pedalaman. Ketika bangsa Melanesoide datang, mereka mulai menetap walaupun semi nomaden. Mereka akan pindah jika sudah tidak mendapatkan lagi makanan. Maka pilihan atas tempat-tempat yang akan ditempatinya adalah tanah yang banyak menghasilkan. Wilayah aliran sungai pula yang akan menjadi targetannya. Padahal, wilayah ini adalah juga wilayah di mana para penduduk asli mengumpulkan makanannya.

Ini mengakibatkan benturan yang tidak terelakan antara kebudayaan palaeolithikum dengan kebudayaan yang mesolithikum. Alat-alat sederhana seperti kapak genggam atau choppers, alat-alat tulang dan tanduk rusa berhadapan dengan kapak genggam yang lebih halus atau febble, kapak pendek dan sebagainya. Pertemuan ini dapat mengakibatkan beberapa hal yaitu:
1. Penduduk asli ditumpas, atau
2. Mereka diharuskan masuk dan bersembunyi di pedalaman untuk menyelamatkan diri, atau
3. Mereka yang ditaklukkan dijadikan hamba, dan kaum perempuannya dijadikan harem-harem untuk melayani para pemenang perang.

Sekitar tahun 2000 SM, bangsa Melanesoide yang akhirnya menetap di Nusantara kedatangan pula bangsa yang kebudayaannya lebih tinggi yang berasal dari rumpun Melayu Austronesia yakni bangsa Melayu Tua atau Proto Melayu, suatu ras mongoloid yang berasal dari daerah Yunan, dekat lembah sungai Yang Tze, Cina Selatan. Alasan-alasan yang me-nyebabkan bangsa Melayu tua meninggalkan asalnya yaitu :
1. Adanya desakan suku-suku liar yang datangnya dari Asia Tengah;
2. Adanya peperangan antar suku;
3. Adanya bencana alam berupa banjir akibat sering meluapnya sungai She Kiang dan sungai-sungai lainnya di daerah tersebut.

Suku-suku dari Asia tengah yakni Bangsa Aria yang mendesak Bangsa Melayu Tua sudah pasti memiliki tingkat kebudayaan yang lebih tinggi lagi. Bangsa Melayu Tua yang terdesak meninggalkan Yunan dan yang tetap tinggal bercampur dengan Bangsa Aria dan Mongol. Dari artefak yang ditemukan yang berasal dari bangsa ini yaitu kapak lonjong dan kapak persegi.Kapak lonjong dan kapak persegi ini adalah bagian dari kebudayaan Neolitikum. Ini berarti orang-orang Melayu Tua, telah mengenal budaya bercocok tanam yang cukup maju dan bukan mustahil mereka sudah beternak. Dengan demikian mereka telah dapat menghasilkan makanan sendiri (food producing). Kemampuan ini membuat mereka dapat menetap secara lebih permanen.

Pola menetap ini mengharuskan mereka untuk mengembangkan berbagai jenis kebudayaan awal. Mereka juga mulai membangun satu sistem politik dan pengorganisasian untuk mengatur pemukiman mereka. Pengorganisasian ini membuat mereka sanggup belajar membuat peralatan rumah tangga dari tanah dan berbagai peralatan lain dengan lebih baik. Mereka mengenal adanya sistim kepercayaan untuk membantu menjelaskan gejala alam yang ada sehubungan dengan pertanian mereka. Sama seperti yang terjadi terdahulu, pertemuan dua peradaban yang berbeda kepentingan ini, mau tidak mau, melahirkan peperangan-peperangan untuk memperebutkan tanah. Dengan pengorganisiran yang lebih rapi dan peralatan yang lebih bermutu, kaum pendatang dapat mengalahkan penduduk asli. Kebudayaan yang mereka usung kemudian menggantikan kebudayaan penduduk asli. Sisa-sisa pengusung kebudayaan Batu Tua kemudian menyingkir ke pedalaman. Beberapa suku bangsa merupakan keturunan dari para pelarian ini, seperti suku Sakai, Kubu, dan Anak Dalam.

Arus pendatang tidak hanya datang dalam sekali saja. Pihak-pihak yang kalah dalam perebutan tanah di daerah asalnya akan mencari tanah-tanah di wilayah lain. Demikian juga yang menimpa bangsa Melayu Tua yang sudah mengenal bercocok tanam, beternak dan menetap. Kembali lagi, daerah subur dengan aliran sungai atau mata air menjadi incaran.

Wilayah yang sudah mulai ditempati oleh bangsa melanesoide harus diperjuangkan untuk dipertahankan dari bangsa Melayu Tua.Tuntutan budaya yang sudah menetap mengharuskan mereka mencari tanah baru. Dengan modal kebudayaan yang lebih tinggi, bangsa Melanesoide harus menerima kenyataan bahwa telah ada bangsa penguasa baru yang menempati wilayah mereka.

Namun kedatangan bangsa Melayu Tua ini juga memungkinkan terjadinya percampuran darah antara bangsa ini dengan bangsa Melanesia yang telah terlebih dahulu datang di Nusantara. Bangsa Melanesia yang tidak bercampur terdesak dan mengasingkan diri ke pedalaman. Sisa keturunannya sekarang dapat didapati orang-orang Sakai di Siak, Suku Kubu serta Anak Dalam di Jambi dan Sumatera Selatan, orang Semang di pedalaman Malaya, orang Aeta di pedalaman Philipina, orang-orang Papua Melanesoide di Irian dan pulau-pulau Melanesia.

Pada gelombang migrasi kedua dari Yunan di tahun 2000-300 SM, datanglah orang-orang Melayu Tua yang telah bercampur dengan bangsa Aria di daratan Yunan. Mereka disebut orang Melayu Muda atau Deutero Melayu dengan kebudayaan perunggunya. Kebudayaan ini lebih tinggi lagi dari kebudayaan Batu Muda yang telah ada karena telah mengenal logam sebagai alat perkakas hidup dan alat produksi. Kedatangan bangsa Melayu Muda mengakibatkan bangsa Melayu Tua yang tadinya hidup di sekitar aliran sungai dan pantai terdesak pula ke pedalaman karena kebudayaannya kalah maju dari bangsa Melayu Muda dan kebudayaannya tidak banyak berubah. Sisa-sisa keturunan bangsa melayu tua banyak ditemukan di daerah pedalaman seperti suku Dayak, Toraja, orang Nias, batak pedalaman, Orang Kubu dan orang Sasak. Dengan menguasai tanah, Bangsa Melayu Muda dapat berkembang dengan pesat kebudayaannya bahkan menjadi penyumbang terbesar untuk cikal-bakal bangsa Indonesia sekarang.

Dari seluruh pendatang yang pindah dalam kurun waktu ribuan tahun tersebut tidak seluruhnya menetap di Nusantara. Ada juga yang kembali bergerak ke arah Cina Selatan dan kemudian kembali ke kampung halaman dengan membawa kebudayaan setempat atau kembali ke Nusantara. Dalam kedatangan-kedatangan tersebut penduduk yang lebih tua menyerap bahasa dan adat para imigran. Jarang terjadi pemusnahan dan pengusiran bahkan tidak ada penggantian penduduk secara besar-besaran. Percampuran-percampuran inilah yang menjadi cikal bakal Nusantara yang telah menjadi titik pertemuan dari ras kuning (mongoloid) yang bermigrasi ke selatan dari Yunan, ras hitam yang dimiliki oleh bangsa Melanesoide dan Ceylon dan ras putih anak benua India.

Sehingga tidak ada penduduk atau ras asli wilayah Nusantara kecuali para manusia purba yang ditemukan fosil-fosilnya. Kalaupun memang ada penduduk asli Indonesia maka ia terdesak terus oleh pendatang-pendatang boyongan sehingga secara historis-etnologis terpaksa punah atau dipunahkan dalam arti sesungguhnya atau kehilangan ciri-ciri kebudayaannya dan terlebur di dalam masyarakat baru. Semua adalah bangsa-bangsa pendatang.

Daftar Pustaka:
D. G. E. Hall. Sejarah Asia Tenggara. Cet.I. Surabaya-Usaha Nasional. 1988
Stanley. Makalah Arus Dari Utara. 1998
T. Parakitri Simbolon. Menjadi Indonesia, buku I “Akar-akar kebangsaan Indonesia”. Cet.I. Jakarta-Kompas-Grasindo. 1995.
Dr. M. Prijohutomo & P.J. Reimer. Tentang Orang dan Kejadian Jang Besar Djilid I. Tjet.V. Djakarta-Amnsterdam: W.Versluys N.V.
Pramoedya Ananta Toer. Hoakiau di Indonesia. Jakarta-Garba Budaya.1998

Baca selengkapnya... ..